Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Masih Level III Siaga
LAMPUNG, Etampost.Id – Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada Selasa (8/9/2026). Sebelumnya, episode erupsi menerus gunung api tersebut berakhir pada Minggu (6/9/2026). Saat ini, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.
Mengutip laporan BPBD Lampung, erupsi Gunung Anak Krakatau terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 48 milimeter dan durasi 19 detik. Visual letusan dilaporkan tidak teramati.
“Warning Eruption Anak Krakatau. Visual letusan tidak teramati,” tulis BPBD Lampung melalui akun media sosialnya.
Sementara itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebut potensi terjadinya letusan masih tinggi. Berdasarkan evaluasi perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau, aktivitas kegempaan masih berlangsung.
Pada periode 7–8 September 2026 tercatat dua kali gempa erupsi, empat kali gempa hembusan, 76 kali gempa low frequency, 100 kali gempa hybrid atau fase banyak, delapan kali gempa vulkanik dangkal, dan sembilan kali gempa vulkanik dalam.
Dalam evaluasi tersebut disebutkan, satu episode erupsi menerus yang dimulai pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB telah berakhir pada 6 September 2026 pukul 00.04 WIB setelah berlangsung selama sekitar 25 jam.
Setelah erupsi menerus tersebut berakhir, hingga 8 September 2026 tercatat telah terjadi enam kali erupsi Strombolian.
Rekomendasi Keselamatan
Dengan status Gunung Anak Krakatau yang masih berada pada Level III atau Siaga, Badan Geologi merekomendasikan masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau, termasuk pengunjung, wisatawan, dan pendaki, untuk tidak memasuki atau melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung.
Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya berupa awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat.
Bagi masyarakat yang terdampak abu vulkanik, Badan Geologi merekomendasikan untuk mengurangi aktivitas di luar rumah. Apabila harus beraktivitas di luar ruangan, masyarakat disarankan menggunakan masker untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan akibat
paparan abu vulkanik.
Sementara itu, masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung diminta tetap tenang dan tidak mempercayai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan terkait isu erupsi Gunung Anak Krakatau yang disebut dapat menyebabkan tsunami.
Masyarakat dapat tetap melakukan aktivitas dengan memperhatikan perkembangan kondisi serta mengikuti arahan BPBD setempat. Informasi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau juga diharapkan merujuk pada keterangan resmi Badan Geologi dan PVMBG.
Badan Geologi menyatakan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau akan terus dievaluasi secara berkala maupun ketika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan.